Monday, September 29, 2014

Fabiayyialaa i robbikummatukadzibaan

Subhanallah, Allohuakbar, Sekarang memasuki ulang tahun pernikahan yang pertama arah kehidupan semakin terlihat walaupun samar. Rejeki pun datang dengan kuasa Allah, seneng banget dan surprise ulang tahun pernikahan dapat kado yang tak terduga dari ibu. Kata ibu ini kado rombongan, yang wisudaan S2, yang ulang tahun ke 23, yang ulang tahun nikahan ke 1 dan sederet doa terpajat dari surat ibu dalam bungkusan itu. Huhuhu langsung nangis deh... Ibu memang ga bisa kasih surprize party tapi over all, walaupun surprizenya diwakilkan tapi aku tetep super bahagia, bukan kadonya bukan nilainya, kalau mau dibilang mungkin nilainya terbilang sangat woow memasuki angka 2 digit didepan tapi arti perhatian yang berlimpah itu yang sangat wonderfull, Ibu sudah mempersiapkannya jauh jauh hari sebelum aku pulang dan 3 hari sebelum aku balik ke beijing ibu memberikan mandat pada mba tarti buat bikin surprize party. Surptize party dari Suami juga ada, aah dia juga ga mau kalah...ya seperti yang ku minta insya Allah bisa buat nabung. Alhamdulillah rejeki sedang membenjiri kami, tapi kamipun tak mau kufur nikmat. Alhamdulillah Bapak sama Ibu membuatkan rumah untuk kami, biar di kampung tapi kami tetap sangat berterimakasih.
Sekarang hidupku serasa lengkap. Amanah dan keinginan orang tua agar aku cepat menyelesaikan S2 ku terbayar sudah. Dan sekarang aku ingin rehat barang sejenak, aku mengikuti suamiku di Beijing, dan untuk mereduksi biaya sewa rumah, akhirnya aku ambil kuliah bahasa mandarin di kampus agar aku diijinkan tinggal di kamar yang dulu berdua dengan suami dengan membayar separuh harga. Memang kuliah bahasa disini harganya fantastis, tapi suamiku bilang "uang itu bisa dicari, tapi momen kebersamaan itu sangat jarang" jadi ya walaupun baru datang di beijing kami sudah di todong hampir 20juta untuk bayar uang sekolah dan uang asrama, kami tetap bersyukur karena Allah masih memberikan kami rejeki untuk makan dan minum, Allah masih memberikan aku kesehatan untuk ke kelas tiap pagi sampai sore, Allah masih memberikan suamiku kesehatan untuk membantuku menyelesaikan pekerjaan rumah yang tercecer dan sebagainya. Walaupun berat setiap pagi sampai sore di kelas dan malam juga harus mereview banyak pelajaran tapi aku sangat menikmatinya. Alhamdulillah setidaknya beban dan janjiku pada bapak ibu sudah terbayarkan. Walaupun jika aku menunda kelulusan (karena beasiswaku 3 tahun) 1 tahun aku bisa sekolah bahasa dengan biaya yang jauh lebih murah, aku bisa dapat asrama gratis dan tentunya uang bulanan dari kampus. Tapi bukankah rejeki sudah dibagi-bagikan secara adil oleh Allah? Awalnya aku yakin karena ada iming-imingan beasiswa dari pemerintah indonesia, kemudian mengajar bahasa indonesia untuk foreigner dan mengajar agama islam untuk anak2 kecil di sini. Dan walaupun nyatanya sampai sekarang beasiswa dari pemerintah indonesia masih tercegat, tawaran mengajar baha indonsia masih belum jelas dan rutinitas mengajar agama islam masih belum dimulai aku masih sangat bersyukur karena Allah memberikanku ketrampilan memasak dan menjahit, tak disangka pula kemarin ada yang pesan masakanku untuk acara pengajian mahasiswa, Alhamdulillah, sedikit itupun rejeki aku masih sangat bersyukur. Berdua dengan suamiku disini dalam keadaan sehat saja aku sudah sangat bahagia. 
Aku ingin memanfaatkan momen berdua disini atau bahkan nanti bisa bertiga saat kami kembali ke tanah air? what a happy I am. Momen ini akan sangat jarang aku temui saat mungkin aku sudah bekerja atau suamiku sudah mulai bekerja.

Sebenarnya kemarin sebelum pulang aku sempat ragu, karena tawaran CPNS di FT Unsoed sangat menggiurkan. Bekerja disana, selain lebih dekat dengan ibu dan bapak yang insya Allah akan aku rawat hari tuanya juga lebih terasa nuansa Desa-nya. Kemudian tawaran dari sekolah tinggi telkom (dulu AKATEL) juga sudah cukup membuat aku ingin membatalkan tiket terbang ke Beijing. Namun aku bukan type orang yang kacang lupa kulitnya, aku masih harus berbakti pada almamaterku, UGM yang membawaku go international. Walaupun sampai saat ini belum ada tindak lanjut dari pihak sana namun aku ingin menungguinya selama 1 tahun, jika dalam kurun waktu itu tetap tidak ada tindak lanjut, mungkin langkah kedepan harus segera ditentukan. Mengingat usiaku yang semakin bertambah, kebutuhan hidup yang harus segera dicukupi, dan lain sebagainya.

Sebenarnya aku sangat menikmati aktivitasku ini, mungkin aku tipe orang rumahan yang sangat suka memasak, menjahit dan segala yang berkaitan dengan rumah. Namun aku juga tak bisa dipisahkan dari kehidupan kampus dan sekolah, karena dari dulu dari dikandung aku sudah merasakan atmosfir sekolah yang ibuku seorang guru. Jadi rasanya memang berat untuk keluar dari lingkup sekolahan, so bekerja di sekolahan adalah pilihan yang smart versiku dan suamiku.

Dikelas bahasa aku punya dua orang teman yang bernasib sama, mereka dari Iran memang beda keyakinan akidah tapi whateverlah bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Mereka mengikuti suami mereka yang sekolah S2 dan S3 dan merekapun tinggal dikampus. Bedanya aku tinggal di asrama yang super murah sedangkan mereka di asrama no 1, anyway masalah keuangan adalah faktor utama mereka. Namun mereka mengaku mereka sangat bahagia berada disini, aahhhh.... aku juga. Bila boleh memilih dan aku punya seorang adik yang akan merawat bapak ibu dirumah, Aku akan menyuruh suamiku bekerja dari satu negara ke negara lain saja dan aku akan mengikutinya untuk belajar bahasa dan kebudayaan, membesarkan anak-anak dan memasakn untuk mereka. Namun bagaimanapun kesempatan 1 tahun yang entah akan datang 2 kali atau tidak ini akan aku manfaatkan dengan baik. Apapun itu berada didekat suami adalah surga bagiku disini.   





Thursday, June 19, 2014

Sakit gigi

Ceritanya hari senin kemarin aku masakin sambel teri buat suamiku. Karena sebentar lagi mau pulang kampung akhirnya kita memutuskan untuk tidak beli2 makanan tahan lama karena stok makanan kita yang bawa dari indonesia masih banyak di kulkas. Salah satunya ya ikan asin itu. Hehehe...ceritanya ikan asin disini super mahal dan ga terlalu enak, makanya segala jenis ikan2an kita bawa dri indonesia yang rasanya dijamin yahuuuddd...

Alhasil sambel teri dan ca kangkung kesukaan suami berhasil dimasak dengan rasa yang tidak terlalu mengecewakan. Karena udah santai dan ga dikejar2 thesis lagi, habis masak kayaknya asik nih kalo boci alias bobo ciang. Ga tahu ngimpi apa, bangun2 pas ashar dan udah laper bingiiiittt, yup pasokan ca kangkung dan sambel teri masih banyak dan siap dilahap. Tapi makanya juga ga banyak2 amat, krn janjian sama suami ntar habis sholat ashar mau sepedaan keliling kampus nyari resto halal di depan main building.

Pas makan kok kaya ada yang ganjal di mulut pojok bagian kanan. Aku kira cuma sisa makanan aja dan aku biarkan aja alias lupa. Sampai pas sepedaan ada rasa2 ga enak di mulut dan tetepa dibiarin lupa. Sampai ga kerasa sepedaan udah jauh sampai di mudanyuan, kita nemu resto halal. Niatnya kita coba nih di resto makan menu andalanya dan esok hari mau ajak teman2 Lab makan2 bareng (mau nraktir ceritanya...)

Kebetulan menu utama yangrou chuanr (sate domba) di resto ini agak alot, kata suami si domba tua. Yawes aku makan sedikit dan sisanya aku wariskan ke suamiku yang udah tampak kekenyangan. Sehabis makan rasa ga enak dimulut sebelah kanan masih aja melanda bahkan makin menjadi. So, cant wait to reach at dormitory, ngebut naik sepedanya sesampai di dormitory langsung gosok gigi, nyari2 yang aneh bin ajab di mulut tapi tetep aja ga ketemu.

Paginya pas bangun buat sholat subuh rasa ga enak/sakit yang menjadi di mulut makin berasa, tapi dasar udah ngantuk jadi ya habis subuh langsung tidur lagi (hehehe). Nah, ini dia yang bikin jengkel plus kesel, bangun jam 8 an ini rasa mulut sebelah kanan pojok kaya ada sesuatu tambah ga ngenakin, so minta tolong suami liatin sehabis gosok gigi, dan tetep aja ga nemu apapun. Semakin siang rasa ga enak semakin menjadi, dan diputuskanlah untuk ke dokter gigi di rumah sakit kampus buat ngecek ada apa di mulut pojokan kanan.

Pas lagi makan siang si associate profesor nelpon, katanya suruh ngumpulin form plagiarism sama bagian akademik school 17, ebuset...dulu udah dikasih katanya ga perlu, eh sekarang diminta. Yowes akhirnya memutuskan untuk ke lab dulu ngasih form, habis ngasih form kita meluncur ke rumah sakit yang ga terlalu jauh dari lab, naik sepeda cuma 4 menit.Tapi sebelum itu aku telpon amina sahabatku yang udah jago cas cis cus bahasa mandarin buat jelasin kronologinya ke di isheng alias dokter gigi. Eh, si dia masih diluar kampus dan akhirnya kta janjian sekitar jam 2 buat ke rumah sakit bareng, tapi sebelumnya aku udah nelpon si pum buat nganterin ke rumah sakit, tapi sama aja doinya lagi diluar kampus dan malah ga tau mau balik jam berapa. Yowes, akhirnya jam 12.00 aku dan suamiku memutuskan untuk daftar dulu ke rumah sakit dan pulang terus ntar jam 2 dateng lagi. Tapi rumah sakitnya tutup alias istirahat dan akan akan dibuka lagi jam 2.

Teng, jam 2 kita  dateng ke rumah sakit mau daftar ke poli gigi, ternyata belum jodoh poli giginya hari itu tutup dan akan buka besok harinya. Ujubuset...yasudahlah  tahan dulu nih sakitnya, padahal udah nelpon amina berkali kali suruh cepet2 balik nih rasa sakit udah tak tertahankan. So, diputuskanlah untuk menanggung rasa sakit seharian, .untuk mengurangi rasa sakit suamiku setia mengoleskan counterpain ke pipi setiap kali aku mringis2 (kaya sakit otot aja). Syafakillah...

Jeng jeng jeng.... hari berganti, dan pagi itu aku langsung saja nelpon amina buat siap2 ke rumah sakit. Awalnya janjian jam 7 tapi karena aku baru bsia tidur jam 3 pagi, maka diundur jadi jam 8.30. Sampe dirumah sakit ternyata antrian poli gigi udah mengular (lebay), aku dapet antrian 25, tapi sambil ngobrol2 sama amina semua terasa singkat dan udah dipanggil2 aja sama perawatnya.

Awalnya ditanya "elu berdua bisa bahasa mandarin ga?" lalu aku jawab "dia bisa, gue dikit2 bisa" si perawat nanya lagi "nah sapa yang sakit si?" lalu aku jawab "gue, tapi dia yang mau jelasin, gue ga ngerti musti gimana jelasinya" (lebay, bilang aja ga ngerti kalimatnya hehehe...), so aku dipasangin oto dan disuruh rebahan di kursi dokter gigi. Pertama lihat udah ilfeel banget nih kursi dokternya jadul dan kotor, haduh bagian buang ludahnya kurang bersih, tapi yasudahlah. Si dokterpun dateng, si amina nyeritain kronoginya. Well, diceklah itu mulutku dan ga ngerti dikasih apa tapi kok kaya semacam obat bius lokal, terus si dokter ambil gunting sampai si amina teriak2 katanya "gue ga sanggup lihat deh, mulut elo udah berdarah2 gitu" geli juga nih dengerinya hehehhe....

Kemudian aku disuruh meludah, dan cruuutt... terang aja merah semua dan semacam kaya ada yang digunting2 gitu, eeee....yah gapapalah ga sakit kok. Kemudian si dokter jelasin kalo ga ada duri2 ikan yang ada cuma gusinya berdarah dan luka kemudian udah doi kasih obat di gusi yang luka, nih 20 minutes ga boleh makan or minum nunggu obatnya kerja. Oke, dan aku ga dikasih obat penghilang rasa sakit ato sejenisnya, terimakasih daifu....

Kelar dari poli gigi dirusuh bayar 4 yuan ke kasir, yee kemudian belanja beli makanan buat breakfast sama si amina ke chaosifa, suasana mulut masih aman terkendali. Well, seduah 20 menit bububuu.....sampe rumah dan duaaarrr sakitnyooooo kerasa, kaya habis operasi gigi 2th lalu. Ga dikasih obat ga dikasih apa, cuma meringis sampe nangis krn perih pooolll, akhirnya dikompres sama es batu, dan aku inget kalo bawa kaflam, obat sakit gigi anti inflamasi yang diwanti2 sama dokter gigi frans sewaktu di indo. Udah minum kaflam rasa sakit hilang, dan tidur, bangun sakit lagi....akhirnya malamnya WA si dokter frans, "dok, gusi gue bermasalah nih gue cuma bawa kaflam, dosis makanya berapa nih dok" kemudian teng si dokter balas WA "udah itu makan aja 2x sehari kaflamnya tapi lebih bagus kalo ada antibiotik" kemudian cari2 dilaci obat sapa tau ada antibiotik, dan tralala...dapet tuh antibiotik merk Amoxsan, kirim fotonya ke dokter frans, dan dibales katanya suruh makan 3x sehari dan 1 strip harus habis.

Well, sekarang udah agak mendingan walopun masih sangat sukar buat makan, memang bener nih kata lagu dangdut, lebih baik sakit hati dari pada sakit gigi. Tapi kalo bisa si jangan dua duanga (ngarep.com)

Saturday, June 14, 2014

Graduation Guys...

Bismillah...

Alhamdulillahirobilalamin...my thesis have done by 3rd of june 2014. The time runs so fast, still could not believe that I could pass all the requirement. Still remember when I cried in the middle of the night because I felt how stupid I am, I could not solved the problem and I got nothing in here. Finally, those days were passed and I graduated, now....

Fabiayyiallaairobikummatukadzibaan?

Thanks to whom was come to my thesis presentation for give me "Jiayou", thanks to everyone and here we go...Uvi...dream will be come true, Insya Allah...


Below are the parts of my thesis acknowledgment, just wanna share those words for taken a memory in a deep heart (Alayyy) 

My deep gratitude is belong to Professor FAN Shang Chun, my supervisor, who probably believed me more than I did and also give me chance to be better in studied during this work. He was patient and respect me allot as his international student and gave me allot of assistance during my life in China especially in Beihang University. Also for Dr. Guo Zhan She, my associate supervisor, who always give me guidance, allot of example in my research, suggestion, material, method and idea to solve allot of research problem.
I would like to say lovely thank to all lovely Lab mates (Ān yīng, Hánjǐngxuān, Xù lóng, Cáo lè, Lǐyìlún, Lǐ jīng, Lǐ yàn) who help me to make a comfortable life in microsensor lab 1, enjoy the research and help me to translate allot of material which is given by chinese.
Also to my entire brilliant teacher in Beihang University who taught me courses during my study.
I would like to thank to president of BUAA and International school staff for their cooperation not only for my study but also for my scholarship.
Special thank to Chinese Government with Chinese Scholarship Council (CSC) who has funded all my study and living in China during my study.
Lovely thanks to my dear Indonesian friend in BUAA and my foreign friend (Uyen, Pum, Por, Teyebeh) for their support and good friendship not only in school but also in Da Yun Cun No.10 dormitory.
For my family (mother, father, sisterUmbang & husband, Uyi & husband and my sweet nephew – Ayang, Haidar, Azka, Nissa) who always give me prayer and warmth of love framed in desire. Special for my mother (Mrs. Sarwiyati) and father (Mr. Rodjingun), your simplicity never ask me more than I can do, for your tears and thousands of prayers said over the sake of my success. Thanks so much, I will be back for remove your longing.
For my dearest husband ever, Wahyu Hidayat for deep understanding and lovely life in china. The swittest moment during my study having someone beside me to share all of the happiness and sadness. Thanks to make my life colorful and perfect. Please hold my hand and let’s reach our dreams.

For my lord (Allah SWT) for allot of favors and blessings. And also my beloved prophet (Muhammad SAW) for the living guidance brings our life better. I expect your intercession on the Day of Judgment. Ashadualla illaha Illalah wa ashadu anna Muhammadurrosululloh

Friday, June 13, 2014

Saling percaya

Bismillah...

Alhamdulillah minggu ini sudah bebas dari tugas kampus, tinggal mengurusi form of leaving dan menentukan mau ambil sekolah bahasa dimana. Sekalian ingin sekali berbagi cerita, hehe... tentang kami (Rumah tangga kami) yang Alhamdulillah masih sangat bahagia dan semoga sampai akhir hayat akan tetap demikian. Amin.

Sebenarnya Alasan aku sendiri tak mau pulang ke Indonesia selepas S2 bukan karena tidak percaya sama suamiku disini atau sebaliknya, tetapi lebih tepatnya aku masih ingin belajar, rasanya memang berat melepas status sebagai mahasiswi. Well, bagi kami kepercayaan atau saling percaya itu number 1, lah buat apa kita mengikat janji jika nyatanya kita tidak saling percaya?

Saya tidak pernah marah jika suami saya chatting dengan teman wanitanya dan begitu pula dia pada saya. Mungkin sedikit rasa cemburu itu ada dan wajar, karena kita memang saling mencintai, tapi rasa cemburu kita tidaklah sampai menjadikan masing2 pihak terugikan. Rasa cemburu itu tidak sampai membuat saya melarang dia berteman dengan teman wanitanya dan begitu pua sebaliknya dia. Karena kami saling mempercayai. Kami menikah dan kami bebas berteman dengan teman kami masing2 asal masih dalam batasan wajar. Guys, menikah itu jangan sampai membatasi pergaulan kita. Itulah pernikahan yang sehat menurut kami. Malah diharapkan dengan pernikahan itu kita bisa mempunya banyak teman, saya misalnya, malah bisa punyai banyak teman dari ibu2 dan cewe2 PLN atau cewe2 teman suami saya, begitu pula sebaliknya dengan suami saya. Dan kami merasa sangat bahagia dengan itu.

Jaman jahiliyah pun saya pernah punya pacar dan Alhamdulillah suami saya tak marah dengan kondisi saya yang berteman denganya, karena kami sendiri sudah berprinsip, cemburu itu boleh dan wajar asal jangan berlebihan, bukankah Allah tidak menyukai sesuatu yang berlebihan? Suami saya pun pernah suka sama teman wanitanya dulu walaupun tak sampai berpacaran tetapi its ok for me, jikalau dia masih berteman baik dengan teman wanita tersebut, saya akan menerima dengan senang hati dan malah bisa nambah silaturahmi. Bukan berarti dia sudah tak berteman baik, tapi memang kondisinya sudah beda dan hampir sudah lost contact.

Well, menikah itu menyatukan antara dua insan dalam segala hal. Diantaranya pertemanan, saya senang saya bisa punya banyak teman dan bisa silaturahmi dengan teman2 suami saya baik itu yang laki2 atau perempuan, begitu juga sebaliknya suami saya. Kita sudah tau batasan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh karena kita bukan anak kecil lagi. Saya mencintai dia dan dia juga mencintai saya, kami bukanlah tipe orang yang berperan layaknya polisi bagi pasangan kami. Justru menurut saya orang yang rasa cemburunya berlebihan itu tergolong masih sangat kenakan-kanakan atau dibilang alay. Yah gimana enggak? misal mau ketemu sama si ini si itu lapor, mau ini mau itu lapor, ketemu mantan pacar di FB aja dicemberutin berbulan bulan, Hey, dude loe itu udah alih fungsi jadi polisi ya? cemuburu ya oke tapi ala kadarnya donk...paling geli saya lihat aksi dan tingkah laku beberapa teman saya (maaf) yang sangat super duper over protect pada pasanganya masing2, bukan bermaksud apa, tapi layaknya hidup si suami itu cuma untuk dia aja apa? atau hidup si istri itu cukup untuk dia aja apa? Astaghfirullohaladzim

Justru keadaan demikian membuat kita hidup jadi gak nyaman dan gak tenang, apa2 takut, iya saking cintanya tapi ga over gitu juga kaleeee, kami memang bukan pasangan ideal, tapi kami akan menjadikan diri kami masing2 menjadi seideal mungkin. Semoga kita tetap bisa saling percaya dan menghargai kepercayaan pasangan kita masing2.

Saturday, May 31, 2014

Yatta, sekaranglah waktunya dear...

Bismillah...
Gak terasa hari selasa esok insya Allah aku akan mengukir prasasti sejarah dalam kehidupanku, berjuang dengan 5 professor penguji dengan penguasaan bahasa asing yang seadanya. Semoga Allah senantiasa menjagaku dari sifat lupa dan takut (Amin). Jadi insya Allah tinggal menghitung hari dan menghitung minggu insya Allah ijazah master sudah ditangan. Promisse, sama Ibu dan bapak kalo pulang mau bawa ijazah insya Allah akan segera tertunaikan.

Berat hati, meninggalkan Beijing dengan segala keindahanya dan kenyamanannya. Tak sanggup ya Rabb jika aku harus meninggalkan belahan jiwaku disini. Aku dan dia sudah layaknya 1 raga dan 1 nyawa, tak bisa dipisahkan. Dia selalu memanjakanku, bahkan dalam segala khilafkupun dia tetap memanjakanku. Apa jadinya jika aku harus jauh darinya? mungkin bisa tak sadarkan diri atau bisa jadi kehilangan akal sehat. Apa kurangnya dia? banyak...!! tapi apa lebihnya dia?? sangat banyak...!! kekuranganya mampu menyempurnakan hidupku, kelebihanya mampu membuatku sangat sangat sempurna.

Tak sanggup, jika aku harus berjauhan darinya. 2 jam saja ditinggal kelas, aku sudah pusing karena kangen yang melanda. Apalagi untuk 1 tahun tanpa dia? Aku itu manja, sangat manja bahkan over manja ke dia. Dan dia sangat sangat memanjakanku, aku benar2 dijadikanya ratu. Tak pernah dia memerintahku untuk sesuatu yang berat, bahkan akunya saja yang kadang tak mau. Tapi dia tetap memanjakanku.

Jadi, insya Allah aku akan ambil sekolah bahasa disini 1 tahun, dengan biaya full support darinya. Siapa lagi?? memang ga murah, tapi ya dia sangat memanjakanku, dan ingin selalu melihatku bahagia. Kemarin segala cara loby2 sudah diusahakan agar mendapat keringanan biaya pendidikan sekolah bahasa, tapi mungkin belum jalan-Nya dan belum rejeki buatku, namun cara lain akan segera direalisasikan insya Allah after finish thesis. Pengajuan lamaran jadi staff pengajar bahasa indonesia sudah dilakukan, tapi belum ada respon. Pengajuan beasiswa tunjangan biaya hidup ke dikti sudah diajukan, dan insya Allah ini yang sementara ini masih berpeluang. Insya Allah mau nyambi menjahit kerudung buat dijual diemperan masjid saat hari jum'at dan meloby mini market di masjid agar mau ikutan jual kerudung, gamis dan rukuh yang insya Allah bisa pre-order sekalian cari tahu jualan online taobao.

Beasiswa S3 ku gagal, bukan karena aku ga kualified tapi karena ada aturan baru dari pemerintah china yang dimana harus ada gap 1 tahun antara jenjang master dan doctor bagi penerima beasiswa dari pemerintah china, dimana keputusan itu baru diberitahukan pihak kampus setelah semua aplikasi beasiswa sudah closed. Awalnya kecewa, tapi life must go on, dan anggap saja belum rejekiku, dan insya Allah jalan menuju doctoral degree masih terbuka sangat lebar, selagi nyawa masih dikandung badan dan keinginan masih membara dalam dada. Doa doa yang terpanjat tak akan sia sia, karena Allah maha mendengar dan maha mengabulkan.

Cuti suamiku ternyata bersyarat, dimana syarat itu nyaris memupuskan semua cita2nya. Mungkin kami berada pada titik nadir dan diambang dilema perpisahan jarak indonesia-china. Tapi sekali lagi, insya Allah kami akan lalui semua itu dengan lapang dada dan ceria. Masih ada banyak jalan, pengajuan jadi tenaga pengajar bahasa inggris untuk anak2 di TK2 embassy masih belum dilakoni. Jualan kerudung juga belum dilakoni, jadi tak akan kami menjudge bahwa rejeki bukan buat kami, karena masih dalam salah kami, rejeki itu belum kami jemput. Insya Allah akan selalu ada jalan bagi orang yang bersungguh2.

Adapun aku, masih ingin sekali belajar di bangku kuliah,mungkin jika aku tak dapat kerjaan di kantor, aku mau jadi IRT yang selalu sekolah dan sekolah saja, mengulang2 S2 di bidang yang aku sukai cari beasiswa sana sini.

Life is not only about money, yang jelas kami tak terlalu ambil pusing tentang masalah uang. Karena uang itu milik Allah. Dan sekaranglah saatnya kami berdua harus struggle, mimpi2ku yang diambang pupus begitu juga dengan mimpi2nya. Tapi, kami akan selalu bergandengan tangan untuk mewujudkan mimpi2 kami, untuk keluarga kecil kami dan keluarga besar kami demikian pula untuk bangsa kami.

Wednesday, May 14, 2014

Bicara tentang rumah idaman, maunya yang kecil dan cukup untuk aku dan suamiku berserta 5 orang anak kita kelak ?? whahahah udah maen 5 aja. Iya manusia kan hanya merencanakan, the rest is up to Allah. Kaya aku nih udah berencana mau lanjut S3 di KAUST eh ga keterima, coba daftar di Tsinghua eh masih ga keterima juga, berati memang belum rejeki dan mungkin kualitas otak ku belum bisa disamakan dengan orang2 jenius di KAUST dan Tshinghua. Ya sudah, mungkin memang lebih baik duduk manis didepan mesin jahit, menjahit baju2 buat keluarga dan berekperimen dengan bahan2 makanan di dapur setiap hari. hahahahha..... love it love it love it.... ^_^

Menuntut ilmu di meja belajar kampus hanya untuk mencari ijazah, tapi ilmu yang sebenranya harus diaplikasikan seorang ibu itu bukan melulu hitung2an matematika atau bahasa inggris saja (curhat patah hati). Yasuhdalah hitung2 menghibur diri habis ditolak lamaran S3 berkali kali. Eiiiitttzzz....rasanya belum afdol dan belum khalas kalo daftar sekolah tanpa ditolak tolak, Ya Ilahi robbi, tunjukan jalanMu...Amin.

5 orang anak?? hahahh yeayyyy mungkin rame kali yah, pastinya seneng dan bahagia. Berasa pagi2 kalo bapaknya mau berangkat kantor dan mamahnya (ngantor ga yaaaa) hahahh pasti super ribut deh ada yang minta makan, ada yang minta dimandiin, ada yang minta mainan, ada yang minta digantiin popok bahkan ada yang puup, ada yang minta duit ada yang bla bla bla pokoknya seneng dan semua itu tak bisa diungkapkan dengan kata2. Yang penting apapun itu, mau jadi ibu dirumah saja atau mau berkarier, pendidikan harus tinggi !!! titik !!! harga mati !!!

Bukan maksud apa tapi memang ibu itu harus pintar dan berwawasan. Kembali ke rumah idaman, maunya yang kecil biar ga repot bersih2 tiap hari, secara aku ga suka banget lihat rumah kotor dan bawaanya emosi deh kalo sudah sampe debu2 beterbangan itu memancing alergi kulit jadi kambuh, huahahahha....yang kecil dan penuh dengan canda tawa anak2 dan suamiku, yang jelas dapurnya harus oke, karena hobby yang satu ini ga pandang bulu, biar ga enak pun tetep maunya masak dan masak aja. Terus ruangan menjahit yang eksklusif, karena kalo sudah berurusan dengan mesin jahit rasanya nih pantat ga mau geser barang sedikit aja dari kursi depan mesin jahit. 

Ya ampyun buuu, lulusan S3 mau dirumah aja gitu?? buat apa ijazahnya?? ya buat dipajang di CV donk, hahahha.... biar anak2ku juga terinspirasi sama ibunya donk "enak aja ibuku yang dirumah aja ijazahnya sampe S3, aku yang anaknya yang berprestasi harus lebih donk" whahhaha.... gak lah, yang jelas biar dirumah ilmu itu juga harus ditularkan, pada siapa? pada ummat donk, apa gunanya ilmu tinggi tapi mati cuma di otak kita sendiri saja? bukankah lingkungan sekiar membutuhkan gebrakan dari kita untuk lebih maju? yah itung2 ada sedikit pengalaman memasak masakan china dan bisa ditularkan ke ibu2 PKK sekitar rumah nantinya. Hitung2 ada pengetahuan agama untuk survive di negeri non muslim yang bisa ditularkan di majelsi taklim nantinya. Hitung2 ada sedikit pengalaman mencicipi bangku kuliah di negeri orang yang bsia di share sama 5 anak nantinya. Whahahah...."fa bi ayyi alla i robbikumma tukadziban"

Yang jelas, penolakan demi penolakan S3 di universitas2 ternama yang aku lamar kali ini tak akan membuatku surut untuk melanjutkan jenjang S3. Maju terus pantang mundur !!!! *cium pipi suami*-gak nyambung***


Tuesday, April 22, 2014

Aku mencintaimu imamku

Beberapa hari ini emosi sedang tidak stabil dan semuanya berdampak pada perlakuanku ke dia. aduuh maaf maaf sayang. Tapi dibalik itu semua ada hikmah yang terpendam bahwa aku sangat sangat mencintainya. Sooo sweeett...Yah aku sangat mencintainya. Dia terlalu baik bagiku sehingga aku sangat mencintainya, dia terlalu sabar menghadapiku sehingga aku sangat mencintainya, dia terlalu memanjakanku sehingga aku sangat mencintainya. Dia bisa menjadi temanku, dia bisa menjadi kakaku, dia bisa menjadi imamku, dia bisa menjadi adiku, dia bisa berperan dalam segala hal di hidupku. Aku sangat mencintainya.

Hal yang sangat aku sukai darinya adalah saat dia mengajariku mengaji, mengajariku matematika dan mengajariku memasak yang baik. Dia pandai dan aku mencintainya. Dia soleh dan aku mencintainya. Dia juga mencintaiku apa adanya dengan segala keterbatasanku. Aku mencintainya.

Terimakasih ya Allah kau hadirkan dia dalam hidupku, kau hadirkan dia untuk mengisi kekuranganku, kau hadirkan dia untukku. Jodohkan dia denganku sampai di akhirat nanti. Amin